Beropini #1 Merenungkan Peran yang Tergantikan?

PS: Ini benar benar latepost dari akun wordpress saya yang lama, namun ada baiknya saya meng-unggahnya kembali disini. Agar opini ini bisa menjadi perenungan dan pembelajaran bersama. Sealamat menikmati :)

#Beropini #ParentingTalks #PersiapanMembangunRumahTangga





Siang ini selepas sholat zhuhur di masjid Al Fitrah, RSUD Pindad, Bandung, aku terenyuh sejenak melihat beberapa anak umur empat atau lima tahunan -aku rasa- yang sedang duduk  sambil asyik melihat salah satu smartphone yang ada digenggaman temannya. Anak anak itu duduk dipnggir gerombolan ibu ibu berseragam aerobic abu pink yang mungkin orangtua mereka -aku rasa.

Anak anak itu rupanya sedang melantunkan hafalan do'a setelah makan yang mereka lihat di smartphone tersebut. Ya, mereka begitu antusias, ketika mengikuti ulang apa yang mereka lihat dan dengar di smartphone tersebut sementara ibu ibu mereka sedang asyik berbincang ria mengenai acara aerobic mereka bahkan sebagian ada yang sibuk dengan smartphone digenggamannya dan ada juga yang asyik ber selfie wefie ria dengan gaya bak abege yang menurutku tak pantas untuk umur seusia mereka yang sudah ibu ibu itu. Sedang ada sebagian suami suami mereka duduk bersandar di selasar masjid sambil asyik ber smartphone ria.
Ya, aku terenyuh. Simple saja sebenarnya rasa itu muncul, karena sepenggal moment yang kulihat cukup menggambarkan.

Anak anak itu belajar terkait agamanya, mengenai hafalan doa setelah makan. Sendiri. Langsung dari gadget nya. Ini keren menurutku, untuk anak seumur mereka memanfaatkan teknologi untuk belajar. Namun, yang menjadi mirisnya menurutku adalah kala itu orangtua mereka, bahkan ibu mereka yang seharusnya menjadi madrasatul 'ula seorang yang berperan penting sebagai pendidik awal bagi anaknya, alpa dalam tugasnya. kemanakah peran ibu.?
Ibu ibu itu kulihat bergerombol berada tak jauh dari anak anak mereka, berpenampilan aerobic yang menurutku cukup sexy karena membentuk jelas sebagian tubuh, beriaskan makeup yang cukup tebal, bahkan ada sebagian yang ber selfie dengan gaya -maaf, menurutku-  sedikit sensual, didepan anak anak mereka yang asyik melantunkan hafalan do'a yang mereka lihat di smartphone nya.  Lalu kemana paran ayah mereka? Ya seperti yang ku sebutkan diatas. Ayah mereka pun juga asyik dengan dunia smartphone yang ada digenggamannya.

Getir hati ini melihat moment tersebut. Meski itu hanya sepenggal moment, tapi nampak bagaimana seharusnya kala itu peran seorang ibu. Apa lagi ini terkait aspek yang sangat dasar yaitu agama. Nampak pula bagaimana seharusnya peran seorang ayah kala itu, setidaknya untuk mengingatkan istrinya dalam bertingkah perilaku yang patut, pun juga kepada anaknya dengan pengayoman sejati layaknya seorang ayah.

Pada moment itu, ku merenung betapa pentingnya ilmu sebelum amal. Betapa anak adalah sebuah amanah. Betapa setiap amanah akan dipertanggung jawabkan kelak.

Mengapa ilmu sebelum amal, kurasa banyak dari kita paham sahabat . Atau barangkali ada yang khilaf atau bahkan ada yang belum tahu. Agama mengajarkan kita kalau sebelum melakukan suatu amalan harus berlandaskan ilmu terlebih dahulu. Dalam hal ini apa kaitannya dengan moment diatas yang ku sebutkan tadi? Ya, terkait ilmu menjadi orangtua sebelum terjun menjadi orangtua.
Bagaimana sebaiknya berperilaku yang patut dihadapan atau tidak dihadapan anak sekalipun, karena anak akan merekam itu dan menirunya. Bagaimana membimbing anak, baik itu terkait ilmu kehidupan ilmu agama dan ilmu ilmu lainnya. Karena benih ilmu yang telah dibimbingkan langsung oleh orangtua akan menjalin keterikatan hati dan kasih sayang antara anak dan orangtua.

Mengapa anak adalah sebuah amanah, kurasa banyak dari kita paham sahabat. Tak semua pasangan hidup didunia ini dapat dikaruniakan anak dalam rumah tangganya. Hanya mereka yang dipilih oleh Allah untuk mengemban amanah ini, yang mana dengannya mereka diberi nikmat sekaligus diuji akan amanah tersebut. Namun, bukan pula yang belum dikaruniakan oleh Allah seorang anak berarti bukan termasuk orang orang pilihan, karena sebetulnya mereka juga dipilih oleh Allah dikarenakan kesabarannya dan segala keistimewaan yang mungkin hanya Dia yang Maha Mengetahui dibalik itu.

Mengapa setiap amanah akan dipertanggung jawabkan kelak. Ku rasa banyak dari kita paham sahabat.
"..Wa ilallahi turja'ul umuur"
Karena dalam Al Qur'an sendiri kita sangat familiar dengan ayat yang menyampaikan tentang kepada Allah lah segala urusan akan dikembalikan.
Di ayat lain disebutkan pada surat Al Baqarah ayat 281 yang artinya bahwa "Dan takutlah pada hari ketika kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap orang diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, dan mereka tidak di dzalimi."

Sepersekian menit setelah moment yang ku saksikan itu, membuatku merenung bahwa bagaimanapun seperti apapun kondisinya.. orangtua sangatlah penting bagi proses tumbuh kembang anaknya kelak. Karenanya, ia menjadikan anak merasa nyaman, sumber segala rasa dihargai dan disayangi, diperhatikan, dituntun menemukan potensinya, didukung untuk merangkai cita citanya. Ya, itu adalah sekian harapan layaknya untuk menjalani peran sebagai orangtua. Maka, disini peran sangatlah penting, terbentik dalam hati bahwa 'jangan sampai ketika Allah hadirkan amanah itu bagiku, peran menjadi orangtua itu tergantikan oleh kelalaian ku sendiri'..
Naudzubillahimindzalika..
Sahabat, semoga apa yang sedikit ku tulis dari renungan moment singkat tersebut dapat memyadarkan kita lagi, bahwa makna pentingnya peran orangtua. Dan menjentikkan semangat kita untuk meluaskan wawasan selaku madrasatun 'ula.

Ahad 19 Nov 2017
Ukhtikum fillah..
Husna H Arsyila

#BelajarParentingDariSuatuMoment #part1 #PeranPentingParent
To be continue....

Komentar